SINGAPORE-INDONESIA YOUTH LEADERSHIP EXCHANGE PROGRAM (SIYLEP) 2017

Singapore Indonesia Youth Leadership Exchange Program (SIYLEP) 2017 adalah program perdana yang digagas setelah adanya nota kesepahaman yang ditandangani oleh Menteri Kebudayaan, Komunitas dan Pemuda Singapura, Lawrence Wong dan Menteri Pemuda dan Pemuda Olahraga Indonesia, Imam Nahrawi di Singapura pada bulan Juli 2015 lalu sebagai wujud upaya nyata kedua negara dalam memperkokoh hubungan.

SIYLEP diprakarsai oleh Kementerian Pemuda dan Olahraga Republik Indonesia bersama dengan NYC (National Youth Council) Singapura. Program tersebut bertujuan untuk memberikan kesempatan kepada para pemuda untuk saling belajar dan bertukar pengalaman. Adapun lingkup pembelajaran dan tema pertukaran pemuda dalam SIYLEP 2017 adalah Innovation and Enterprise dimana para delegasi dituntut untuk banyak belajar dan berdiskusi mengenai perkembangan teknologi, inovasi, bisnis kewirausahaan dan start-up demi memajukan masyarakat, bangsa dan negara.

Program dilaksanakan dalam dua fase, yaitu fase Singapura dan fase Indonesia masing-masing selama seminggu, dari tanggal 9 s.d. 24 November 2017 yang terdiri dari 20 delegasi Indonesia dari 20 provinsi berbeda dan 20 delegasi Singapura dari tiga sector berbeda, private, public and people (3P).

FASE PRE-DEPARTURE TRAINING

Pada tahap ini, para delegasi diberi pembekalan yang diakomodir oleh para alumni yang tergabung dalam wadah organisasi Purna Caraka Muda Indonesia (PCMI) terkait. Tahap PDT dilaksanakan di Golden Boutique Hotel, Jakarta, selama tanggal 9-12 November 2017. Tujuan dari kegiatan ini adalah untuk mempersiapkan fisik dan mental delegasi, membekali pengetahuan delegasi mengenai perkembangan start-up di Indonesia serta penampilan cultural performance sebagai bekal menghadapi kegiatan dan suasana baru selama melaksanakan program.

Tanggal 09 November 2017

Pada PDT hari pertama, delegasi SIYLEP Indonesia berkumpul di Golden Boutique Hotel sejak siang untuk kemudian check-in, ishoma dan persiapan acara pembukaan. Upacara pembukaan dimulai pada pukul 19.30 WIB, diawali dengan laporan oleh ketua panitia, kemudian dilanjutkan dengan sambutan dan pembukaan dari pihak Kemenpora.

52

Pembukaan PDT di Golden Boutique Hotel, Jakarta

Setelah kegiatan tersebut selesai, ada evaluasi dan briefing untuk kegiatan esok harinya, serta latihan untuk mempersiapkan cultural performance. Ada satu medley lagu daerah dan lima tarian yang disiapkan selama program, antara lain adalah tari zapin muda-mudi, yosim pancar, piriang, ratoh jaroe, dan kecak. Delegasi dari Jawa Tengah dipercaya untuk berpartisipasi dalam dua tarian, yaitu tari piriang dari Provinsi Sumatera Barat dan tari ratoh jaroe dari Provinsi Aceh.

Tanggal 10 November 2017

Pada pagi hari tepat pukul 07.30 WIB para delegasi berangkat menuju salah satu tempat yang menjadi wadah untuk mendukung para pegiat start-up di Jakarta, yaitu Jakarta Creative Hub di Gedung Graha Niaga Thamrin, Jakarta Pusat. Disana, para delegasi melakukan banyak tanya jawab yang menarik dan memperluas wawasan, berkesempatan untuk melihat fasilitas 3D printing, laser cutting, dan cnc (computer-controlled cutting) serta berderet co-working area dimana banyak perusahaan start-up memajang hasil produknya. Setelah selesai mengunjungi Jakarta Creative Hub, para delegasi bertolak menuju ke Kemenpora untuk melakukan courtesy call.

54

Courtesy Call di Kemenpora RI

Agenda selanjutnya adalah kunjungan ke kantor Gojek. Di kantor Gojek kami diajak berkeliling melihat fasilitas kantor yang sangat modern dan memukau, seperti ruang fitness, yoga, play zone, perpustakaan, bahkan tempat tidur. Sambil diajak berkeliling kantor, kami juga diberi pengetahuan mengenai managerial dan sistem kerja di Gojek. Kegiatan terakhir di Gojek adalah presentasi dari salah satu komisaris yang menjelaskan tentang sejarah, founders of Gojek, misi serta prestasi Gojek dalam turut membangun negeri.

55

Kunjungan ke Gojek

Tanggal 11 November 2017

Pada hari ketiga program PDT diawali dengan diskusi untuk persiapan teknis malam inaugurasi. Acara dilanjutkan dengan penyampaian materi mengenai Media Digital dan Revolusi Komunikasi serta materi hubungan bilateral antara Singapura dan Indonesia yang disampaikan oleh Kementerian Luar Negeri Indonesia.

56

Malam Inaugurasi SIYLEP 2017

Setelah ishoma siang, diskusi panel dengan tema Ekonomi Kreatif “How to Grab Opportunities in Digital Era”, dan dilanjutkan dengan grooming class yang berisi pelatihan make up agar nantinya para delegasi mampu menjaga penampilan tetap prima. Setelah selesai pelatihan, dengan tatanan dan make up yang bagus, para peserta PDT langsung bersiap untuk melaksanakan malam inaugurasi.

Tanggal 12 November 2017

Setelah melalui malam inaugurasi dan cultural performance, paginya para delegasi memulai perjalanan ke Bandara Internasional Soekarno Hatta dan siap menuju Changi International Airport. Sesampainya di bandara Singapura, delegasi Indonesia disambut oleh perwakilan dari National Youth Council (NYC) Singapura. Kami kemudian melakukan perjalanan ke Village Bugis Hotel untuk melakukan opening ceremony dan welcoming dinner pada malam harinya.

57

Tiba di Bandara Internasional Changi, Singapura

FASE SINGAPURA

Tanggal 13 November 2017

Pada pukul 08.30 pagi, seluruh delegasi Indonesia berangkat dari Bugis Village menuju Civil Service College untuk memulai kegiatan. Civil Service College adalah tempat pelatihan dan pendidikan bagi pegawai negeri di Singapura. Selama sesi materi, semua delegasi menggunakan ruang kelas di Civil Service College. Setelah acara welcoming ceremony, photo group session dan tea reception, ada sedikit briefing tentang administrasi pembagian iPad yang berisi jadwal selama kegiatan beserta semua data peseta bahkan pemateri selama kegiatan berlangsung. Lalu dilanjutkan dengan brainstorming tentang program, tentang apa yang akan dipelajari selama seminggu di Singapura dan aktivitas di dalam kelas untuk saling mengenal satu sama lain.

58

Training manual brew di Bettr Barista Academy

Pada siang harinya, ada materi pengenalan tentang Public, Private and People yang sering disingkat menjadi 3P. Kelas dibagi menjadi tiga kelompok bidang sesuai latar belakang masing-masing delegasi kemudian mulai berdiskusi dan presentasi. Selanjutnya untuk makan siang, semua peserta dijamu dengan makanan yang luar biasa lezat di The Malayan Council yang dilanjutkan dengan team building dengan mengunjungi Bettr Barista Academy, sebuah kafe specialty coffee yang juga membuka akademi untuk para barista ini menggunakan kopi untuk kegiatan social dan pemberdayaan perempuan.

59

Specialty Coffee

Disini, para delegasi diajarkan tentang bagaimana kopi bisa mengubah hidup seseorang, salah satunya adalah barista wanita single parent dengan seorang anak yang hampir putus asa dengan hidupnya, lalu kemudian bangkit dan menjadi barista. Selain itu para delegasi juga diberi kesempatan untuk belajar membuat kopi dengan beberapa metode manual brew seperti menggunakan V60, clever dripper dan aero press. Di akhir dari kegiatan tersebut, kami ditantang untuk saling berkompetisi membuat kopi khas tiap kelompok. Pada malam harinya, rangkaian kegiatan di hari pertama telah usai. Akan tetapi dengan inisiatif para delegasi Singapura, mereka bersedia mengantarkan kami ke pertunjukan water dance di Marina by the Bay dan menikmati pemandangan kota di Garden by the Bay.

Tanggal 14 November 2017

Pada hari Selasa pagi, kami kembali menuju ke Civil Service College untuk menerima materi. Materi pertama disampaikan oleh Mr. Winston Tan mengenai ASEAN in the Fourth Industrial Revolution (4R). Setelah tea break, materi selanjutnya adalah diskusi panel bersama dua orang narasumber yaitu Dr. Charlotte Amanda dari Indonesia Studies Programme dan Ms. Denise Perreira dari Kedutaan Besar Singapura. Di sini kami berdiskusi mengenai hubungan Singapura dan Indonesia sejak pertama kali sampai saat ini beserta segala pengalaman pahit manis yang telah dilalui oleh kedua negara.

60

Presentasi hubungan bilateral Singapura-Indonesia

Pada siang hari, materi selanjutnya disampaikan oleh Mr. Wu Wei Neng mengenai Socio-Economic Challenges and Oportunities in Singapore and Indonesia and the Role of Youth. Di dalam kelompok, kami bertukar pendapat mengenai peran pemuda bagi negara dan bangsanya. Kami harus memberikan aspire, perspire dan inspire kami masing-masing. Materi ini diakhiri dengan pengarahan tentang Discovery of Singapore Heartlands oleh Ms. Ong Eee Teng yang akan kami lakukan keesokan harinya. Pada sore harinya, kami diundang oleh Kedutaan Besar Republik Indonesia untuk melakukan courtesy call. Di sini, kami bertanya jawab mengenai hubungan kerjasama antara Singapura dan Indonesia serta menanyakan mengenai masalah bilateral yang terjadi. Untuk menutup acara hari tersebut, kami juga melakukan social activity di Night Safari Singapore, kebun binatang nocturnal pertama di Singapura yang juga dipadati banyak ditonton dari berbagai negara.

61.png

Courtesy Call di Kedubes RI

62.png

Night Safari Singapura

Tanggal 15 November 2017

Kegiatan SIYLEP fase Singapura pada tanggal ini kembali dilaksanakan di Civil Service College. Paparan materi pertama dimulai tentang Whole of Government Approach to Building a Smart Nation oleh Mr. Tan Kim Leng. Beliau adalah associate trainer di CSC yang sudah berpengalaman selama lebih dari 25 tahun dalam konsultasi dan pelatihan. Selama hampir dua jam, para delegasi banyak berdiskusi aktif mengenai asal muasal orang melakukan inovasi dalam bidang teknologi dari hukum Newton hingga penemuan mesin ATM. Dua delegasi dari Indonesia mengajukan pertanyaan mengenai perlindungan kerahasiaan data dan literasi teknologi dalam kehidupan sehari-hari, khususnya di lingkungan yang terpencil dan susah akses internet. Sebagai kesimpulan dan penutup, Mr. Kim Leng berpesan bahwa seusai program, para delegasi diharapkan bisa menjadi pemuda aktif dengan perspektif berbeda dengan mengidentifikasi masalah dan kemudian memecahkannya.

Setelah coffee break, para delegasi SIYLEP menuju ke kantor startup Block 71. Block 71 merupakan hasil kolaborasi dari NUS Enterprise, SingTel Innov8 dan the Media Development Authority of Singapore sebagai pusat klaster dan tempat inkubasi yang mewadahi para pebisnis muda di Singapura yang merintis start-up. Setelah puas tanya jawab dengan pihak NUS di Block 71, masih dalam gedung yang sama, kami berkunjung ke The Oddle Company Pte Ltd untuk bertemu dengan pendirinya, Jeremy Lee yang mahir di bidang software engineering dan design. Oddle merupakan startup yang mengembangan sistem pemesanan makanan secara online. Perusahaan ini telah bekerja sama dengan lebih dari 1500 restoran di seluruh dunia untuk membantu sistem pemesanannya secara daring. Sistem Oddle ini sangat membantu bagi restoran yang hanya memiliki ruang yang kecil yang seringkali penuh selama jam-jam makan. Jika tidak difasilitasi dengan baik, tentunya pengunjung yang ingin menikmati makanan tidak lagi mendapat tempat sehingga mengurangi penjualan. Untuk itu, Oddle didirikan secara user-friendly untuk memudahkan konsumen dan pihak restoran sendiri dalam memilih dan mengedit menu, menentukan restoran dan tempat pengantaran, bahkan menganalisis data penjualan.

Setelah selesai belajar langsung dan berkunjung ke dua kantor startup di Singapura, para delegasi berangkat bersama menuju Tampines Hub. Tampines Hub merupakan wadah komunitas bersama dari berbagai badan pemerintahan di Singapura yang dilengkapi dengan fasilitas canggih dan sangat memudahkan masyarakat. Di dalam Tampines Hub, para delegasi dibagi menjadi beberapa kelompok kecil yang terdiri dari 8 orang untuk menyelesaikan beberapa challenge untuk mengumpulkan poin sebagai kelompok terbaik. Dengan berbekal aplikasi tertentu,  beberapa games challenge harus diselesaikan oleh kelompok, misalnya menyanyikan lagu daerah di depan para pengunjung dan mengumpulkan tepuk tangan sebanyak-banyaknya.  

Salah satu tempat yang berkesan disana adalah perpustakaan yang sangat nyaman dengan berbagai koleksi genre lengkap. Bahkan, proses peminjaman dan pengembaliannya sangat mudah hanya dengan menekan beberapa tombol secara mandiri dan buku sudah bisa dipinjam untuk beberapa minggu tanpa perlu mengantri di petugas. Sore hari setelah mengeksplorasi Tampines Hub, para delegasi menuju ke  Sustainable Living Lab atau sering disingkat SL2 di UWCSEA. Disana, para delegasi bertemu dan mendapatkan materi dari Farah Hidayati, sang Executive Director sekaligus salah satu local youth dari Singapura yang menjadi counterpart selama program. Di SL2 yang sudah didirikan sejak 2011, para delegasi banyak belajar mengenai pendidikan teknologi, pengembangan fasilitas dan prototipe. Tidak jauh berbeda dari Jakarta Creative Hub, SL2 juga nanyak fasilitas dalam ruangan seperti mesin pemotong, printer 3D, mesin jahit, dan berbagai mesin lainnya. Bahkan, atap gedungnya juga dilengkapi dengan solar panel dan juga digunakan sebagai kebun hidroponik dengan berbagai jenis tanaman dari bibit hingga siap panen.

61

City Exploration di Orchard Road

Setelah banyak melakukan learning journey ke berbagai tempat, waktu malam hari dihabiskan di Eighteen Chef di Cathay Cineleisure Orchad. Chef Benny sebagai pendirinya memberikan materi singkat tapi sangat menginspirasi. Dia yang merupakan mantan narapidana mendirikan sebuah kafe halal yang menyajikan berbagai makanan lezat dengan para pegawainya yang juga merupakan mantan narapidana, mulai dari kasus kekerasan, pembunuhan hingga narkoba. Diharapkan para napi ini bisa mendapat pekerjaan dan penghidupan yang layak di lingkungan yang bersih, aman, penuh motivasi dan bebas dari penghakiman. Lalu, sup krim wortel, nugget ayam, calamary, pasta, nasi goreng, es krim dan kue cokelat lezat bergiliran dihidangkan untuk memanjakan lidah dan perut kami. 

Tanggal 16 November 2017

Ini merupakan hari terakhir para delegasi mendapatkan pelatihan di Civil Service College, sehingga pada kesempatan tersebut para delegasi melakukan evaluasi dan mengulas kembali poin-poin penting yang telah dilaksanakan sejak hari pertama hingga hari terakhir. Sebelum acara ini ditutup, pihak NYC mengundang masuk para host family atau orang tua angkat untuk menyaksikan penampilan seni tari kebudayaan dari kedua negara. Delegasi Indonesia menampilkan tari Ratoeh Jaroe, sementara delegasi Singapura menampilkan medley lagu daerahnya. Kegiatan hari ini pun berakhir dengan serah terima delegasi Indonesia kepada orang tua angkat sebagai keluarga barunya di Singapura.

Tanggal 17 November 2017

Hari ini para delegasi melakukan dialog bersama Singapore’s Minister of Culture, Community and Youth dan Deputi Pengembangan Pemuda Indonesia Kemenpora. Kegiatan ini sangat menginspirasi dan banyak memberikan pelajaran berharga bahwa sebagai pemuda kita harus membuat perubahan yang konstruktif, inklusif dan bertanggung jawab. Setelah itu masing-masing delegasi diberikan sertifikat program, dan kemudian makan siang bersama. Hari tersebut terasa sangat mengharukan karena para delegasi saling bertukar kenang-kenangan dan acara penutupan.

62

Acara penutupan SIYLEP 2017 di Singapura

Pada hari ini kami diberi kesempatan untuk lebih mengenal dekat anggota keluarga angkat. Saya merasa sangat beruntung karena berkesempatan tinggal dengan keluarga angkat yang sangat baik dan ramah, Bapak Shaik Kadir dan Ibu Khairon Mastan di daerah Bedok bersama delegasi Sulawesi Selatan yang seorang Miss Intercontinental 2017. Keluarga angkat ini telah menjadi host family sejak lebih dari dua puluh tahun terutama untuk program SSEAYP, dan merasa sangat senang untuk kedua kalinya menerima delegasi Indonesia dalam keluarganya. Kami diajak berjalan-jalan mengelilingi kota dan diperkenalkan dengan anggota keluarga lainnya yang tinggal tidak jauh dari situ. Bapak Shaik Kadir juga adalah seorang penulis terkenal. Beliau banyak menulis tentang sejarah Singapura, perkembangan Islam, bahkan isu-isu terkini di banyak koran, majalah, novel, hingga buku sekolah. Kami diberi sebuah buku berjudul The Splendours of Islam yang diterbitkan oleh The Muslim Converts’ Association Singapore setebal 164 halaman yang sangat bagus untuk menambah wawasan mengenai Islam.

63

Berkumpul bersama host family di Singapura

Tanggal 18 November 2017

Ini adalah hari terakhir fase Singapura di mana pada hari ini kami harus segera kembali ke Jakarta dan mendarat dengan selamat pada sore harinya. Pada malam hari, kami mengadakan evaluasi program untuk berbagi pengalaman selama di negeri singa tersebut. Sesudah acara evaluasi, kami berlatih medley yang akan ditampilkan pada fase Indonesia di Provinsi Riau.

FASE INDONESIA (19 – 23 November 2017)
Tanggal 19 November 2017

64.jpg

Tiba di Bandara Sultan Syarif Kasim II, Pekanbaru

Pada hari pertama fase Indonesia ini kami tiba di bandara Sultan Syarif Kasim II di Pekanbaru, kemudian diajak untuk city tour melihat sekilas ikon-ikon Riau seperti perpustakaan Soeman HS dengan desain bangunan unik yang mencerminkan integrasi dua simbol, rehal atau alas membaca Al Quran di bagian atas dan simbol rumah-rumah Melayu. Tidak salah jika Riau memiliki slogan the Homeland of Melayu. Sesampainya di hotel, kami disambut oleh 20 Local Youth dan dijelaskan lebih lanjut tentang program yang akan dilakukan di Riau yang bertema expect the unexpected.

 Tanggal 20 November 2017

Hari kedua fase Indonesia kami dijamu di kediaman Gubernur Riau untuk acara penyambutan. Sekembalinya ke hotel, acara dilanjutkan dengan materi oleh Kepala Dinas Provinsi Riau dengan tema Pemuda yang Menginspirasi. Materi sesi kedua bertemakan Pariwisata di Provinsi Riau oleh Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Riau. Banyak cerita dan inspirasi yang dibagikan pada sesi ini. Pada malam hari acara dilanjutkan dengan pembahasan community development yang akan dilakukan selama fase Indonesia.

 Tanggal 21 November 2017

Ini adalah hari yang dinanti karena semua delegasi bersiap siap untuk berangkat ke Desa Buluh Cina. Kegiatan Homestay dan Community Development akan dilakukan tepat pada hari ini hingga 2 hari ke depan. Sesampainya di sana, kami semua disambut dengan baik oleh seluruh masyarakat dan aparat desa setempat termasuk keluarga angkat. Kami dibagi menjadi 3 tim meliputi tim literasi, tim branding, dan dokumentasi/media dalam community development ini untuk mengangkat potensi wisata Desa Buluh Cina dan mulai mengeksplorasi kawasan desa.

 Tanggal 22 November 2017

Delegasi SIYLEP bergabung dengan rekan PCMI Riau, Relawan Muda Riau, Genbi Riau, Ikatan Dokter Riau, dan 20 local youth dari Riau berkumpul di SDN 1 Buluh Cina untuk melakukan kegiatan Sapa Sekolah. Di sini, murid-murid dari mulai kelas 1 hingga kelas 6 bergantian memasuki pos-pos yang telah disiapkan oleh para delegasi dan relawan untuk diajari materi dan games menarik. Enam pos tersebut adalah Cita-Citaku, Indonesia, Kesehatan, Lingkungan, PDTA, dan Ayo Menabung. Sebagai contoh, dalam salah satu post yaitu Ayo Menabung, para siswa dibekali dengan pengenalan mengenai jenis uang rupiah, mata uang asing, manfaat menabung, yel-yel seru, pembagian celengan dan buku tabungan, serta cara mengenali uang palsu oleh duta Bank Indonesia.

Setelah selesai, acara dilanjut dengan makan siang dan istirahat bersama dengan para orang tua angkat di bibir sungai sembari menikmati pemandangan Buluh Cina yang asri. Pada sore harinya, para delegasi dan relawan menuju ke PDTA Nurul Ikhlas untuk melakukan community development bagi para siswa madrasah dengan cara mengajari kerajinan tangan dengan membuat hiasan dari sedotan, cap bunga dengan cat tembok, origami, serta games yang diikuti dengan pemberian doorprize berupa suvenir dari berbagai provinsi.

65

Penampilan Tari Piriang pada acara penutupan

FASE RE-ENTRY (24-25 November 2017)

Tanggal 24 November 2017

Ini adalah hari terakhir di mana semua delegasi bersiap berangkat ke Jakarta untuk melakukan upacara penutupan dan evaluasi sebelum keesokan harinya kami berangkat kembali menuju ke provinsi masing-masing. Pada malam harinya, para delegasi telah resmi menjadi anggota Purna Caraka Indonesia untuk batch Merah Putih 1 program SIYLEP 2017.

66

Foto penutupan bersama para panitia

Menjadi salah satu delegasi mewakili provinsi tercinta Jawa Tengah merupakan sebuah kebanggaan berharga bagi saya. Program perdana ini tidak hanya menjadi jembatan baru untuk hubungan baik persahabatan antar pemuda kedua negara, tetapi juga mempererat hubungan kerja sama bilateral di banyak sektor. Saya percaya semua kerja keras akan terbayar lunas, dan SIYLEP adalah kesempatan sekali seumur hidup yang tidak akan disesali. Jadi, kami tunggu Anda menjadi delegasi selanjutnya!


Profil Singkat Ratna Widya Iswara

Ratna Widya Iswara lahir di Rembang, 5 Juni 1992 merupakan lulusan sarjana dan magister Pendidikan Bahasa Inggris dari Universitas Negeri Semarang. Semenjak sekolah dan kuliah sering aktif dalam mengikuti kegiatan akademik maupun non akademik, termasuk menekuni hobi memasak dan membaca buku. Pernah berkecimpung di dunia pendidikan dengan mengajar di SMP-SMA Bilingual Semesta Semarang dan volunteer diピュア保育園 Pyua Hokuen Nara, Jepang. Kemudian tertarik untuk bertugas di organisasi internasional dengan bekerja di United Nations Development Programme (UNDP) dan saat ini bekerja di ASEAN Coordinating Centre for Humanitarian Assistance (AHA Centre), sebuah organisasi intergovernmental yang didirikan oleh 10 negara anggota ASEAN dalam manajemen bencana.

INDONESIA-CANADA YOUTH EXCHANGE PROGRAM (ICYEP) 2017

Indonesia-Canada Youth Exchange Program adalah salah satu dari program Pertukaran Pemuda Antar Negara (PPAN) oleh Kemenpora RI dengan difasilitasi oleh Canada World Youth. Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, untuk tahun 2017 ICYEP bekerjasama dengan Cowichan Intercultural Society. Penyelenggaraan ICYEP ini diadakan di kota Duncan, Provinsi British Columbia. Program ini bergerak dibidang community development dan cross culture understanding. Delegasi dari Indonesia diikuti oleh perwakilan beberapa provinsi melalui seleksi yang telah ditetapkan oleh Kemenpora yang seluruhnya berjumlah 7 orang dan satu orang supervisor dari alumni ICYEP sebagai team leader. ICYEP tahun 2017 memiliki tema Developing Millenial Leaders yang bertujuan untuk melahirkan pemimpin-pemimpin yang bisa memaksimal peran teknologi untuk perkembangan Indonesia.

ICYEP tahun 2017/2018 memiliki fokus program pada menjalankan work placement sesuai bidang masing-masing delegasi, berinteraksi dengan host family, dan Knowledge Sharing Session.

Waktu Pelaksanaan Program

Program Indonesia Canada Youth Exchange 2017/2018 terdiri dari dua fase, yaitu Fase Kanada dan Fase Indonesia. Fase Kanada dilaksanakan dari tanggal 15 Desember 2017 hingga 24 Januari 2018 bertempat di Duncan, British Columbia. Sedangkan Fase Indonesia dilaksanakan dari tanggal 28 Januari 2018 sampai dengan 7 Maret 2018 bertempat di Desa Kandri, Semarang, Jawa Tengah.

Fase Pre-Departure Training

Fase Pre-Departure Training dilaksanakan pada tanggal 5 Desember hingga 14 Desember. Tanggal 5 Desember, Pre-Departure Training dilaksanakan di Gedung Indosat. Sedangkan pada tanggal 6-9 Desember, Pre-Departure Training dilaksanakan di Gedung Kemenpora, selebihnya Pre-Departure Training dilaksankan di Apartemen Permata Senayan. Pada tahap ini, para delegasi diberi pembekalan yang diakomodir oleh para alumni peserta Indonesia-Canada Youth Exchange Program yang diketuai oleh Mahfirlana Mashadi sekaligus bertugas sebagai team leader yang ikut mendampingi kegiatan peserta dari Fase Kanada hingga Fase Indonesia. Tujuan dari kegiatan ini adalah untuk mempersiapkan fisik dan mental delegasi, serta penampilan cultural performance sebagai bekal menghadapi kegiatan dan suasana baru selama melaksanakan program.

Kegiatan delegasi selama PDT antara lain meliputi pembuatan visa Canada, pemberian materi-materi yang berkaitan dengan program ICYEP, diskusi PPA kontingen, sharing dengan alumni, dan latihan cultural performance.

20

Seluruh delegasi, alumni, dan Kemenpora RI dalam acara pelepasan delegasi

21

Peragaan budaya dari berbagai provinsi di acara Cultural Night PDT ICYEP

Fase Kanada

Program dimulai dengan keberangkatan ke Kanada didampingi alumni dan Kemenpora. Berangkat dari Jakarta, kemudian transit di Hongkong selama kurang lebih 3 jam lalu terbang ke Kanada. Sesampainya di Kanada delegasi disambut oleh Kak Afina Burhanuddin, Protokoler Konsulat Jendral Republik Indonesia di Vancouver. Beliau juga merupakan Alumni dari Program Pertukaran Pemuda Indonesia Kanada. Sebelum tiba di Duncan, para delegasi harus transit terlebih dahulu di Kota Vancouver, salah satu kota paling padat di British Columbia.

22

Courtesy Call di Konsulat Jenderal Vancouver

Sesampainya di Vancouver, kami dijemput oleh salah satu host family yang tinggal di Duncan. Tidak mudah untuk mencapai kota Duncan, karena jaraknya cukup jauh dengan Bandara di Vancouver, kami harus menaiki kapal yang menempuh waktu kurang lebih 2 jam.

 

 

Host family ketika berada di Duncan

Kami dan rombongan dari kemenpora pergi ke kantor CIS dalam rangka perkenalan dan dimulainya kerjasama Kemenpora dengan CIS. Siangnya kami mengikuti acara natal potluck gathering dalam rangka natalan dan perkenalan bersama dengan beberapa imigran dari beberapa negara (Jepang, Zimbabwe, Vietnam, Filipina dan Iraq) yang belajar bahasa inggris di kantor CIS ( Cowichan Intercultural Society) sebelum liburan natal. CIS merupakan salah satu organisasi sosial yang memberikan pengajaran kepada imigran dari berbagai negara yang ada di Kanada. Para imigran akan dibiayai dan diajar sampai mereka mahir berbahasa Inggris dan mendapatkan pekerjaan di Kanada. Ada banyak organisasi sosial yang bergerak di Kanada dan ada berbagai acara yang mereka adakan setiap bulannya.

 

 

Delegasi, Kemenpora, dan CIS melaksanakan gathering terkait program

Ada banyak kegiatan kerelawanan disini. Disini kami juga melakukan kegiatan sukarela membantu membungkus kado dari London Drugs, sebuah toko yang memberikan adiah natal kepada orang tua yang sudah tidak memiliki keluarga disini. Yang unik ternyata hadiah natal tersebut berasal dari para pengunjung di London drugs. Idenya seperti ini, London drugs melakukan survey dengan memberikan suatu kertas berisi wish list kepada para lansia di salah satu rumah jompo yang menginginkan hadiah natal beserta nama. Lalu setiap pengunjung yang tergerak hatinya melihat kertas yang digantung di pohon natal supermarket tersebut dan membelikan barang yang ditulis lalu meletakkannya di sebuah kotak. Program tersebut berlangsung selama sebulan, ketika sudah dekat hari natal para relawan datang dan membantu untuk membungkusnya menjadi kado dan akan dihantarkan pada hari natal sebagai kado natal. Kira-kira ada 500 kado yang kami bungkus.

27

Kegiatan membungkus kado bersama sebagai relawan

Keesokan harinya kami juga membantu mempersiapkan untuk hidangan makan malam untuk orang yang tidak memiliki tempat tinggal atau homeless di Duncan United Church bersama organisasi Food Bank, salah satu organisasi yang bergerak di bidang sosial. Ini merupakan salah satu work placement dari delegasi.

Adapun makanan yang disiapkan adalah makanan khas Kanada yang biasanya di makan saat Christmas dan Thanks Giving yaitu, Turkey dan berbagai makanan khas lain. Selain itu para homeless juga mendapat kesempatan untuk memilih dan membawa pulang baju ataupun kebutuhan sandang lainnya yang merupakan sumbangan dari para umat di gereja tersebut. Hal yang kami salut tidak semua barang disana adalah barang yang bekas. Banyak juga yang menyumbangkan barang yang baru sebagai hadiah natal untuk para homeless.

Selain itu kami juga mendapat tempat workplacement di Biscay Manor, Rumah Jompo. Di Kanada banyak sekali tempat untuk menampung orang tua atau rumah jompo. Karena kebetulan di Duncan sendiri lebih banyak orang tua daripada pemudanya, maka disediakan banyak rumah jompo disini. Adapun kegiatan yang kami lakukan adalah memberikan game sebagai penyemangat kepada mereka dan merapikan berbagai ruangan yang ada disana.

Malam harinya kami diundang untuk membawakan pertunjukan budaya secara langsung di salah satu cafe tempat berkumpulya para artis atau pemain musik antar negara yang mengunjungi kota tersebut. Adapun yang kami bawakan adalah lagu dari Medley ke 7 provinsi. Disini penampilan juga ditampilkan secara langsung di stasiun TV lokal.

 

 

Delegasi membagikan makanan kepada para homeless dilanjutkan pertunjukkan tarian dari Sumatera Utara

28

Delegasi membawakan lagu Medley 7 Provinsi di salah satu Cafe terkenal di Duncan

Dalam program ICYEP terdapat sesi Knowledge Sharing Session, yaitu para delegasi harus mengedukasi orang di sekitarnya melalui pengetahuin yang ia punya. Pada Knowledge Sharing Session ini bercerita tentang Human Social Evolution, bercerita tentang pentingnya peran manusia dalam perubahan gaya hidup. Disebutkan pula bahwa perbandingan populasi manusia dan dampak dari perkembangan teknologi yang semakin maju serta fakta-fakta yang masih dianggap salah oleh beberapa orang.

31.jpg

Delegasi mempresentasikan tentang Human Evolution dalam Knowledge Sharing Session

Di minggu terakhir para delegasi berkunjung ke kantor Parlement British Columbia. Kantor ini terletak di ibukota British Columbia, yaitu kota Victoria dan merupakan salah satu kantor tertua di Kanada. Kalau diibaratkan di Indonesia ini merupakan kantor DPR. Di sinilah para legislator menentukan kebijakan yang akan diambil untuk provinsi British Columbia. Pengunjung bisa melihat isi gedung dari hari Senin hingga Jumat dan akan dipandu oleh tour guide.

32

Delegasi berkunjung ke Kantor Parlemen British Columbia

 

 

Ruang Legislatif Kantor Parlemen British Columbia

Sebelum fase Kanada selesai, para delegasi berkunjung ke Mount Whistler, yaitu salah satu tempat diselenggarakannya Olimpiade Musim Dingin 2010 di Kanada yang mempertandingkan 15 cabang olahraga dan diikuti oleh 82 negara. 

 

Delegasi di Mount Whistler

Fase Indonesia

Setelah menjalani fase Kanada selama kurang lebih 1,5 bulan dilanjutkan dengan fase Indonesia di Desa Kandri, Semarang, Jawa Tengah. Fase Indonesia berjalan dari 28 Januari 2018 sampai dengan 7 Maret 2018.

Kedatangan kami di Provinsi Jawa Tengah disambut hangat oleh Dinas Parawisata Provinsi Jawa Tengah, PCMI Jawa Tengah dan Mas Mbak Jateng. Kemudian kami diantar ke Desa Kandri dan disambut hangat oleh Pak RT dan Pak Lurah serta pemuda dan pemudi Desa Kandri. Setelah itu kami dikenalkan dengan para orangtua asuh kami yang akan tinggal bersama kami selama 45 hari.

37

Penyambutan delegasi di Semarang, Jawa Tengah

51.jpg

Host Family di Desa Kandri

Di Kandri kami menginap di host family masing-masing yang sudah ditetapkan oleh panitia sebelumnya. Dalam kegiatan di Desa Kandri kami membuat kegiatan bersama dengan organisasi di Desa Kandri untuk memajukan para warga Desa Kandri. Kami berkumpul untuk membahas kegiatan yang akan dilakukan di Desa Kandri kemudian menentukan setiap PIC dalam setiap kegiatan di Desa Kandri. Kami berkolaborasi dengan KKN UNNES, KKN UIN, dan Duta Pendidikan provinsi Jawa tengah dalam rangka untuk menumbuhkan minat anak-anak terhadap permainan tradisional yang sudah hampir punah. Tujuannya agar tidak terlalu banyak anak yang terpengaruh dengan gadget.

 

 

Delegasi bersama warga setempat mengadakan kegiatan untuk anak-anak di Desa Kandri

Kami mendapat kesempatan untuk belajar bagaimana cara membuat batik. kami ke tempat pembuatan batik siwarak yang berlokasi di Desa Kandri RW2. Ternyata membatik itu sangat banyak tekniknya. Pada kesempatan ini kami belajar teknik mencanting dengan menggunakan lilin. Kami boleh memilih desain sesuai dengan keinginan kami. Setelah selesai kami juga belajar untuk memadukan warna yang ada sehingga lebih bervariasi.

41

Para Delegasi membuat batik di Desa Kandri

Di pertengahan program kami mengadakan kelas inspirasi beserta pengenalan akan cara menggosok gigi yang benar di sekolah yang ada di desa kami yaitu SD Kandri 01. Dimulai dari senam pagi bersama para murid, dilanjutkan dengan pengenalan cara menggosok gigi yang benar kemudian masuk ke dalam kelas inspirasi. Kami diberi kesempatan untuk menceritakan pengalaman kami dan memberikan motivasi kepada para murid untuk bercita-cita yang tinggi dari sejak kecil.

 

 

Kelas Inspirasi di SD Kandri 01

Selain itu, kami juga mendapat undangan dari PT. Phapros, Tbk. yang merupakan perusahaan farmasi, anak dari PT. Rajawali Nusantara Indonesia (RNI). Salah satu obat yang paling terkenal dari PT. Phapros ini adalah Antimo. Kami dibawa untuk berkeliling pabrik setelah itu kami diberi kesempatan untuk mengenal CSR dari PT. Phapros, Tbk. Kami juga berkesempatan untuk belajar mengelola bank sampah yang berada di salah satu desa di Kab. Semarang di bawah arahan PT. Phapros.

 

 

Delegasi berkunjung ke PT. Phapros

Di minggu terakhir, para delegasi mengadakan pentas seni di Desa Kandri dan para delegasi membawakan lagu medley dari 7 provinsi.

48

Delegasi di acara pemetasan Desa Kandri

H-1 sebelum kembali ke Jakarta kami berpamitan dengan Dinas Pariwisata, Pemuda dan Olahraga Jawa Tengah sekaligus mempresentasikan kegiatan kami selama di Kanada dan Desa Kandri. Setelah itu pulang kembali ke desa dan para peserta diberikan waktu untuk berpamitan dengan para warga di Desa Kandri.

49

Perpisahan dengan Dinas Pemuda, Olahraga, dan Pariwisata Jawa Tengah

Pada tanggal 8 Maret 2018 para delegasi bertolak ke Jakarta dan langsung menuju hotel Golden Boutique hotel. Malam harinya merupakan penutupan program Pertukaran Pemuda Indonesia Kanada 2017/2018 oleh Kemenpora dan DPP PCMI. Selanjutnya adalah program sharing dan evaluasi internal mengenai program yang telah kami laksanakan Setelah itu kami beristirahat dan pulang ke daerah masing-masing pada tanggal 10 Maret 2018.

Selalu ada cerita di balik peristiwa, menjadi delegasi muda Indonesia adalah peristiwa sekali seumur hidup yang tak akan terlupa.


Profil Singkat Arno Johan

Arno Johan menamatkan studinya pada tahun 2017 di Jurusan Pendidikan Matematika, Universitas Negeri Semarang. Ia aktif dalam berbagai kegiatan termasuk menjadi Staff Kepengurusan di Himpunan Mahasiswa hingga mengikuti berbagai organisasi luar kampus seperti Youthful.social. Dengan organisasi dan pengalaman yang ia punya, ia juga berhasil mendapatkan beasiswa prestasi dalam kampus dan luar kampus. Tak hanya di organisasi, ia juga berhasil memenangkan kompetisi, yaitu menjadi juara 3 Duta Wisata Kabupaten Pekalongan. Ia juga aktif dalam kegiatan internasional seperti mengikuti pertukaran mahasiswa di Thailand dan menjadi delegasi di International Seminar Showcase tentang Social Culture di Nepal. Pengalaman mengajarnya juga tidak bisa diragukan lagi, ia dikirim untuk mengajar di Taiwan selama 2 bulan dan saat ini, ia bekerja sebagai guru di Permata Bangsa International School di Semarang.

The Ship for Southeast Asian and Japanese Youth Program (SSEAYP) 2017

Pernahkah kalian membayangkan melakukan suatu perjalanan melintasi samudera dimana sejauh mata memandang hanya lautan dan langit biru? Pernahkah kalian membayangkan tinggal di sebuah kapal pesiar bersama orang-orang baru dengan latar belakang kebudayaan yang berbeda? Hal tersebut tidak bisa saya bayangkan sebelumnya, hingga saya mengalaminya sendiri. Tahun 2017 merupakan tahun spesial bagi saya karena berkesempatan untuk mengikuti sebuah program pertukaran pemuda bernama SSEAYP yang bertujuan menjalin persahabatan antara negara Jepang dan ASEAN. Mewakili Jawa Tengah, saya dan 27 peserta lain dari berbagai provinsi yang berbeda mengikuti serangkaian persiapan sebelum keberangkatan (Pre-Departure Training) selama tiga minggu, dimana kami berjumpa secara langsung untuk pertama kalinya. Dengan bekal persiapan yang matang, kami berangkat menuju Jepang pada tanggal 22 Oktober 2017. Disana lah kami bertemu dengan 330 peserta dari seluruh negara ASEAN dan Jepang.

2

Kontingen Indonesia dalam the 44th SSEAYP

Japan Country Program

Terdapat tiga basis pengelompokan dalam program, yaitu berdasarkan kontingen atau negara asal, berdasarkan Discussion Group (DG) atau kelompok diskusi, serta berdasarkan Solidarity Group (SG) atau kelompok solidaritas dengan bentuk kegiatan seperti team building dan aktivitas keakraban lainnya. Saya sendiri masuk dalam kelompok DG-3 tentang International Relations dan SG-I. Setelah serangkaian upacara penyambutan selama dua hari di Hotel New Otani Tokyo, para peserta menjalani Country Program di Jepang dengan tujuan prefecture yang berbeda-beda berdasarkan kelompok SG. Tergabung di SG-I, saya menuju Tokushima Prefecture untuk menjalankan program selama satu minggu. Tiga hari pertama kami tinggal di hotel dengan agenda institutional visit, sedangkan tiga hari sisanya kami tinggal bersama hostfamily dengan agenda sesuai dengan rencana hostfamily masing-masing.

3

Kedatangan SG-I di Bandara Tokushima disambut oleh panitia Tokushima

Pada tanggal 26 Oktober 2017, SG-I beserta panitia country program Tokushima melakukan kunjungan ke Waza no Yakata. Di sini kami mendapatkan mempelajari sejarah dan teknik Indigo-Dyeing, yaitu proses pewarnaan tekstil yang dipraktikan oleh orang-orang Jepang sejak ratusan tahun yang lalu. Tidak hanya lecture tentang sejarah, proses, dan kegunaannya di masyarakat, kami juga diberi kesempatan untuk mengikuti workshop membuat sapu tangan yang dibuat dengan teknik indigo. Setelah makan siang, kami menuju ke lokasi berikutnya, yaitu Shikoku University. Di sini kami mendapatkan lecture tentang Shodo atau teknik kaligrafi Jepang serta mempraktikkannya pada media kipas kertas dengan bantuan mahasiswa Shikoku.

Hari kedua, kami melakukan kunjungan ke Tsukigatani Onsen untuk mendengarkan lecture tentang Zero Waste Campaign dan Colorful Leves Business oleh Mr. Satoshi Nonoyama, CEO pangea. Zero Waste Campaign merupakan sebuah kampanye 3R (reduce, reuse, recylce) dimana masyarakat sangat peduli terhadap lingkungan serta berkomitmen menjaga dan melestarikan lingkungan. Gerakan ini dilakukan di sebuah kota kecil bernama Kamikatsu. Di sebuah stasiun pembuangan, mereka membagi kategori jenis sampah sesuai dengan jenisnya. Setidaknya terdapat 40 kategori sampah, contohnya kategori tutup botol, tabung tisu toilet, baterai, sikat gigi, dan botol kaca. Di kunjungan ini, kami belajar tentang komitmen dan kesadaran seluruh masyarakat untuk menjaga lingkungan. Masih di wilayah yang sama, kami mengunjungi Irodori Colorful Leaves Business  yang merupakan sebuah usaha untuk menjual daun-daun hidup secara online. Bisnis ini mampu memberdayakan penduduk di wilayah tersebut yang 80% di antaranya adalah lansia. Para lansia diedukasi tentang teknologi serta cara mengemas daun-daun yang mereka petik dengan kemasan yang baik. Pada kunjungan ini kami belajar untuk dapat melihat potensi yang ada di sekitar kita, meskipun terlihat tidak mungkin. Selain itu semangat untuk memberdayakan masyarakat lansia juga perlu untuk diteladani.

Pada sore harinya, kami kembali ke hotel untuk mengikuti Welcome Reception and Homestay Matching. Pada acara ini, kami bertemu dengan keluarga angkat kami masing-masing. Kami pun diberi kesempatan untuk menampilkan pertunjukan gabungan dari seluruh anggota SG-I. Kami menyanyikan lagu We Are Unity serta gerakan sign language dengan mengenakan attire B, yaitu kostum nasional. Tergabung dalam SG yang sama, saya dan dua peserta dari Indonesia lainnya memakai pakaian daerah kain Songket Palembang yang berasal dari Provinsi Sumatera Selatan. Selain pertunjukan dari peserta, pihak dari Tokushima juga menampilkan sebuah tarian bernama Awa-Odori. Setelah makan malam bersama, kami pulang ke rumah hostfamily masing-masing untuk menjalankan homestay program.

4

Fashion show saat acara Welcome Reception & Homestay Matching

Pengalaman homestay adalah salah satu pengalaman yang paling berkesan. Saya tinggal bersama keluarga Yuasa yang terdiri dari ayah angkat, ibu angkat, satu adik angkat perempuan, serta satu adik angkat laki-laki. Selain itu, saya juga bersama dengan teman homestay yang bernama Anna Hamdan dari Brunei Darussalam. Kami disambut dengan poster yang digambar oleh adik angkat kami bertuliskan nama kami dan gambar bendera Indonesia dan Brunei Darussalam. Setelah keluarga angkat mengenalkan ruangan di rumah tersebut, kami berbincang-bincang dengan sambil minum teh. Ayah angkat saya adalah seorang guru Matematika, sedangkan ibu angkat saya adalah guru Bahasa Inggris. Kami tinggal di sebuah rumah yang cukup besar. Lantai satu digunakan untuk beberapa ruangan kelas les, ruang printing, serta kantor. Lantai dua digunakan untuk aktivitas rumah tangga seperti dapur, kamar mandi, kamar tidur, serta ruang makan. Pada hari selanjutnya, kami pergi mengunjungi Uzu no michi di Kota Naruto. Tempat tersebut berupa sebuah jembatan dimana terdapat beberapa titik lantai yang terbuat dari kaca sehingga kita mampu melihat pusaran air di bawahnya. Pusaran air inilah yang dinamakan naruto, sesuai dengan nama kotanya.

5

Memakai kaus yang sama dengan gambar Sudachi, maskot Tokushima

Setelah kembali dari masing-masing perfecture, para peserta menuju ke National Youth Center (NYC) untuk mengikuti Tokyo Program. Serangkaian kegiatan yang dilakukan di Tokyo seperti institutional visit, lecture, serta exchange party. Terdapat pula free time dimana kita bisa mengunjungi tempat-tempat menarik di Tokyo serta berbelanja. Berakhirnya Tokyo Program pada tanggal 1 November 2017 juga menandai dimulainya pelayaran kami. Kami berangkat menuju Harumi port dimana kami berjumpa dengan kapal MS Nippon Maru untuk pertama kalinya, kapal yang akan mengantar kami berkeliling ASEAN selama kurang lebih satu setengah bulan.

6

Kontingen Indonesia mengenakan seragam batik di NYC Tokyo

On Board Activity (Kegiatan di Atas Kapal)

Selama berada di kapal Nippon Maru, kami tidur di sebuah kamar cabin dengan dua orang peserta lain dari berbeda negara. Cabin mate saya adalah Maung dari Myanmar dan Yuri dari Jepang. Kami datang dari budaya serta kebiasaan yang berbeda-beda, namun kami saling beradaptasi serta saling menghargai. Kesempatan ini sekaligus menjadi ajang untuk saling berbagi dan bercerita tentang negara kita masing-masing.

Meskipun hidup tanpa akses internet, perjalanan yang cukup lama di atas kapal sangat terasa menyenangkan. Setiap pagi pukul 07.00 para PYs saling bergantian melakukan morning call sesuai SG masing-masing. Pada pukul 07.30,  kami melakukan morning exercise hingga pukul 08.00. Dilanjutkan dengan sarapan pagi pada pukul 08.00. Kegiatan inti di atas kapal dimulai pukul 09.00 pada saat morning assembly dimana seluruh peserta wajib datang, berbaris, serta memeriksa suhu tubuh. Peserta yang sakit atau yang memiliki suhu tubuh lebih dari 37 derajat celcius akan diperiksa oleh perawat kapal. Mereka akan beristirahat di cabin atau di nurse room sehingga tidak bisa mengikuti kegiatan. Itulah mengapa kesehatan saat program sangatlah penting. Saya bersyukur bahwa saya tidak pernah jatuh sakit serta tidak pernah mengalami sea sick. Pada morning assembly, para staf admin (panitia pelaksana program) akan mengumumkan jadwal kegiatan pada hari tersebut serta pengumuman lainnya. Setelah itu, dibuka kesempatan bagi para peserta untuk menyampaikan informasi atau pengumuman apapun terkait program maupun promosi kegiatan pada malam harinya.

Pukul 10.00 sampai pukul 17.00 merupakan waktu untuk kegiatan-kegiatan inti seperti Discussion Group, Solidarity Group, maupun PY Seminar. Malam harinya, para peserta mengikuti berbagai kegiatan seperti National Presentation dari berbagai negara, Voluntary Activity, atau sekedar bersantai dan menikmati fasilitas di kapal. Akhir kegiatan pada hari tersebut diakhiri dengan night call pada pukul 23.00 yang menandai bahwa segaka aktivitas harus diakhiri, serta peserta harus masuk kembali ke cabin mereka masing-masing.

7

Menikmati sunset bersama teman satu SG

Discussion Group (DG)

Sebagai salah satu kegiatan utama dalam program, Discussion Group bertujuan agar peserta mampu memperdalam pemahaman mengenai isu terkini yang berkaitan dengan berbagai isu di ASEAN-Jepang serta mampu bertukar pikiran serta menyajikan ide yang mereka miliki. DG diharapkan mampu memberikan kemampuan praktikal yang dibutuhkan dalam mengimplementasikan berbagai usaha untuk berkontribusi pada masyarakat melalui Post–Program Activity. Pada tahun 2017, Discussion Program dan Post – Program Sessions mengusung tema Youth Participation in Social Activities yang berbasis pada Sustainable Development Goals yang kemudian disusun menjadi 8 topik Discussion Groups (DG), yaitu Good and Bad Aspects of Globalization, Information and Media, International Relations, Measures Against Lifestyle-related Disease, Quality Education, Reduced Disparity, Resilient and Sustainable City Design, serta Youth Entrpreneurship.

8

Bersama facilitator DG-3 di ASEAN-Japan Centre Tokyo

Tergabung di DG-3, saya belajar lebih banyak tentang hubungan internasional khususnya antara negara Jepang dan ASEAN. Kami membahas isu-isu global serta saling bertukar informasi dari sudut pandang yang berbeda-beda. Terdapat beberapa kegiatan pada Discussion Group, di antaranya Introductory Program, Institutional Visit, Group Discussion, serta Presentation of Discussion Result. Sebelum memulai group discussion, terdapat satu sesi bernama Introductory Program yang memaparkan program diskusi secara keseluruhan disertai dengan presentasi yang bertajuk Youth Contribution in Social Activities. Saya terlibat pada kegiatan tersebut sebagai presenter untuk memaparkan Indonesia Country  Presentation dengan mengusung satu proyek sosial, yaitu The Floating School, bersama dengan dua presenter lainnya. Beberapa IPY lainnya berperan untuk memainkan peran untuk mendukung presentasi. Untuk menutup kegiatan group discussion, saya juga turut terlibat dalam Presentation of Discussion Result. Pada sesi tersebut, masing-masing DG memaparkan hasil diskusi yang mereka pelajari selama group discussion kepada seluruh peserta lainnya. DG-3 melakukan roleplay Japan-ASEAN summit, dimana saya menjadi salah satu delegasi yang mewakili negara Kamboja.

9

Roleplay Japan-ASEAN summit

Solidarity Group (SG)

Solidarity Group Activity merupakan kegiatan dilakukan untuk mempererat rasa solidaritas (team bonding) melalui permainan, tarian dan aktivitas ringan lainnya. Seluruh peserta akan dibagi kedalam 11 kelompok Solidarity Group (A, B, C, D, E, F, G, H, I, J dan K) dimana mereka akan menjalani sebagian besar aktivitas bersama dengan kelompok ini. Masing-masing SG akan bertugas secara bergantian untuk melakukan morning call dan night call serta memimpin morning exercise.

10

SG-I saat kegiatan team building

Voluntary Activity (VA)

 Voluntary activity  adalah kegiatan yang dilakukan secara sukarela untuk dalam mengisi waktu luang selama di kapal. Kegiatan ini diinisiasi oleh peserta sendiri, baik mewakili kontingen (negara) maupun kelompok tertentu. Contoh kegiatan yang diinisiasi oleh kontingen Indonesia adalah Nonton Bareng “Laskar Pelangi”, Batik Day, Indomie Party, serta Cofee Party. Selain itu banyak kegiatan lainnya seperti Thai Massage, SSEAYP Got Talent, serta Kontes Pageant. Salah satu Voluntary Activity yang berkesan adalah saat saya seluruh teman satu SG mengikuti SSEAYP Got Talent dimana kami berkompetisi dengan SG lainnya dengan menunjukkan bakat terbaik kami. Pada saat itu, kami memperoleh juara dua dalam kompetisi ini dengan menyajikan sebuah gabungan bakat dimana saya menjadi vocalist diiringi instrumen musik oleh teman lainnya, serta ditutup dengan sebuah modern dance.

11

12

Juara 2 dalam SSEAYP Got Talent

PY (Participating Youth) Seminar

PY Seminar merupakan kegiatan yang baru dilaksanakan pada SSEAYP tahun 2017 ini. Kegiatan ini bertujuan agar para peserta mampu belajar dari peserta sendiri dengan mengadakan seminar dimana mereka saling bertukar pengetahuan dan budaya satu sama lain. Saya sendiri tergabung dalam presenter Herbs Don’t Lie yang bertujuan mengenalkan rempah-rempah khas Indonesia bersama lima presenter lainnya. Diawali dengan menjelaskan sejarah rempah-rempah di Indonesia, kami juga menjelaskan tentang manfaatnya dalam kehidupan sehari-hari. Seminar diakhiri dengan minum aneka wedang khas Indonesia bersama-sama.

National Presentation (NP)

National Presentation merupakan suatu penampilan dari semua negara untuk mengenalkan negara tersebut melalui sebuah pertunjukkan kesenian sepanjang 75 menit. NP dijadwalkan bergantian, hanya satu negara dalam satu harinya serta dilakukan pada malam hari. NP adalah salah satu kegiatan yang dinantikan. Sebelum menghadiri NP, kita akan mempersiapkan diri dengan berdandan serta biasanya bertukar pakaian dari negara lainnya. Saya pun berkesempatan untuk memakai pakaian dari negara Jepang, Thailand, Kamboja, Myanmar, Philippines, dan Brunei Darussalam.

 

1314.jpg

Kiri: Memakai Kostum Jawa Tengah pada Indonesia NP. Kanan: Memakai Kostum Yukata dari Jepang saat menghadiri malam NP

Selain kegiatan on board yang dilaksanakan di kapal, kami juga diberi kesempatan untuk mengunjungi beberapa negara ASEAN. Negara yang dikunjungi berbeda setiap tahunnya. Tahun 2017, negara ASEAN yang kami kunjungi adalah Kamboja, Thailand, Indonesia, dan Malaysia.

Cambodia Country Program

Program di Kamboja merupakan rangkaian country program yang kedua. Berlabuh di Sihanoukville Port, kami disambut oleh drum band serta tarian yang ditarikan oleh local youth. Keesokan harinya kami berangkat ke Phnom Penh untuk menghadiri courtesy call oleh H.E. Prime Minister of Kingdom of Cambodia. Pemerintah Kamboja menyediakan dua pesawat terbang khusus untuk peserta SSEAYP yang mengantarkan kami dari Sihanoukville ke Phnom Penh serta sebaliknya. Kami menginap di Sokha Hotel dengan pemandangan Sungai Mekong, salah satu sungai yang terkenal dan penting di Kamboja. Di hotel tersebut pula kami disambut kembali dengan welcoming dinner oleh Minister of Education, Youth and Sport. Hari kedua di Phnom Penh, kami melakukan institutional visit berdasarkan kelompok DG. Kami DG 3 melakukan institutional visit ke Department of Inrternational Relations Royal University of Phnom Penh. Kami memperoleh lecture tentang hubungan internasional antara Jepang dan ASEAN beserta para mahasiswa di jurusan tersebut. Kami juga diberi waktu untuk membahas isu-isu terkait International Relations dengan local youth sekaligus mahasiswa tersebut. Mereka sangat ramah serta antusias saat berdiskusi dengan kami.

Setelah serangkaian welcoming ceremony dan institutional visit, tiba saatnya kami menjalani homestay program. Saya mendapat homestay mate dari Malaysia, bernama Jannifer, yang akan tinggal bersama di rumah keluarga kami yang baru. Adik angkat kami, bernama Syanith, mengantar kami ke beberapa lokasi wisata. Pertama, kami mengunjungi Tuol Sleng Genocide Museum yang dahulunya merupakan sebuah bangunan sekolah yang dirubah menjadi penjara saat Khmer Rouge. Di sana kami memahami Kamboja memiliki sejarah kelam yang mengakibatkan jatuhnya banyak korban. Kamboja kehilangan banyak sumber daya manusia akibat kejahatan genosida tersebut, dimana orang-orang yang berpendidikan dan memiliki keterampilan seperti guru, dokter, penyanyi ditangkap dan dibunuh. Butuh bertahun-tahun hingga akhirnya Kamboja mulai bangkit kembali. Tujuan selanjutnya, kami mengunjungi Royal Palace hingga malam hari. Syanith mengajak kami ke sebuah seafood restaurant untuk makan malam. Dia begitu menghargai kami sebagai keluarga angkatnya. Saya adalah seorang muslim yang hanya diperbolehkan memakan makanan halal. Selain itu, homestay mate saya dari Malaysia tidak bisa makan daging sapi. Dengan demikian, seafood adalah makanan yang paling sering kami makan selama homestay. Hal ini merupakan salah satu hal yang saya pelajari di Kamboja. Perbedaan budaya dan agama tidaklah menjadi tembok penghalang dalam menjalin pertemanan dan kekeluargaan.

Setelah program homestay berakhir, seluruh peserta kembali ke Sihanoukville untuk melanjutkan perjalanan ke Thailand. Pada saat Send Off ceremony, para keluarga angkat turut datang untuk melepas kepergian serta berkesempatan untuk ship tour Nippon Maru. Kami berpisah dengan upacara pelemparan pita warna-warni yang melambangkan ikatan antar keluarga serta hubungan yang akan tetap berlangung walaupun kita berpisah.

15

Perpisahan dengan keluarga angkat saat meninggalkan Kamboja dengan upacara pelemparan pita warna warni

Thailand Country Program

Country program di Thailand dilaksanakan di Bangkok pada tanggal 16 November 2017. Sebelum menjalankan homestay program, kami berkesempatan untuk melakukan institutional visit berdasarkan Solidarity Group (SG). SG-I mendapatkan kesempatan untuk mengunjungi  Bangkok National Museum dan Phayathai Babies Home. Pada homestay program di Thailand, saya mendapat keluarga angkat yang terdiri dari ibu dan dua anak dengan homestay mate dari Kamboja bernama Kay. Kami menghabiskan waktu bersama-sama mulai dari menghadiri pesta pernikahan, berbelanja, serta mengunjungi tempat wisata seperti pagoda atau biasa disebut dengan Wat. Kami menikmati waktu di Thailand karena makanan yang enak dan sesuai dengan selera kami. Itulah mengapa keluarga angkat kami sering mengajak kami mencoba kuliner Thailand di beberapa tempat terkenal di Bangkok. Kegiatan country program Thailand diakhiri dngan send off ceremony  yang dilaksanakan di depan kapal. Upacara diawali dengan gangway cheers, sambutan Pol Gen Adul Saengsingkaew serta diakhiri dengan upacara pelemparan pita hingga akhirnya kapal berangkat menuju Tanjung Priok, Jakarta, Indonesia.

16.jpg

Persiapan Gangway Cheers setiap kali turun dari kapal di Port negara yang dikunjungi

Indonesia Country Program

Rasanya sangat senang singgah di negara sendiri setelah melaksanakan setengah bagian dari program. Terdapat rasa yang berbeda kembali berada di tanah air meskipun hanya tiga hari. Sebagian besar dari peserta dari Indonesia bertemu dengan sanak keluarganya di Tanjung Priok. Hal uniknya adalah kami bisa menurunkan sebagian besar bagasi kami yang terdiri dari oleh-oleh serta barang yang sudah tidak terpakai lagi selama program. Kegiatan institutional visit di Indonesia dilakukan di Sekretariat ASEAN. Hari berikutnya, kami melaksanakan homestay matching untuk bertemu dengan hostfamily. Pelaksanaan homestay matching di Indonesia adalah yang paling berkesan. Selain sajian tarian, peserta diajak ikut berkolaborasi dalam sebuah pertunjukkan angklung. Masing-masing PY mendapat sebuah angklung dan memainkan perannya untuk memainkan not tertentu. Hal berkesan lainnya adalah para hostfamily sangat antusias dalam menyambut kami. Mereka bahkan membuat sebuah yel-yel khusus untuk menyambut calon anak angkat mereka. Keluarga angkat saya adalah keluarga Herdiono, terdiri dari ayah, ibu, dua adik angkat perempuan serta satu adik angkat laki-laki. Pada homestay  di Indonesia ini, saya mendapat homestay mate dari Jepang yang bernama Yuki. Aktivitas yang kami lakukan selama homestay program yaitu menonton pertunjukan bertajuk Indonesia Kaya, berjalan-jalan ke Kota Tua, berjogging ke Ancol Eco Park, hingga berbelanja batik.

Malaysia Country Program

Seperti biasa, kegiatan selama country program diawali dengan welcoming ceremony. Hal yang berkesan adalah ketika seluruh peserta memakai attire B (pakaian nasional) mereka masing-masing pada jamuan makan malam. Kontingen dari Indonesia memakai pakaian dari daerah NTT yang didominasi warna merah dan kuning. Attire ini menjadi salah satu yang paling disukai oleh para peserta karena keunikannya.

17

Menghadiri welcome dinner dengan mengenakan attire B dari NTT

Kegiatan institutional visit di Malaysia dilakukan berdasarkan SG. Saya dan SG-I mengunjungi Kompleks Olahraga Bukit Jalil, Kuala Lumpur. Diawali dengan lecture singkat di Stadium Nasional Bukit Jalil, kami mendapatkan tour untuk melihat fasilitas-fasilitas yang ada di sana. Lokasi Sport City ini sering dijadikan tempat kompetisi olahraga baik tingkat nasional maupun internasional. Acara dilanjutkan dengan homestay matching di Putrajaya untuk bertemu keluarga angkat untuk pertama kalinya. Bersama dengan homestay mate saya Mameaw, yang berasal dari Thailand, saya tinggal di keluarga angkat yang terdiri dari ayah, ibu, dua saudara perempuan, serta satu saudara laki-laki. Beberapa tempat yang kami kunjungi antara lain night market, I-City Shah Alam serta kompleks Putrajaya.

Cerita di atas hanyalah sebagian kecil dari pengalaman yang saya alami. Saya bersyukur telah diberi kesempatan untuk mewakili Indonesia dalam pogram SSEAYP ini. Sebuah pengalaman sekali seumur hidup yang pastinya layak kalian perjuangkan.


Profil Singkat Restu Ayu Mumpuni

Restu Ayu Mumpuni, or usually called Ayy is a young woman from Semarang who is currently running a Small and Medium Enterprise (UMKM) producing famous sash product in Indonesia. Her persistence in doing business has led her to penetrate the international market and got her to win the 1st champion of Young Entrepreneur Competition as well as the 1st winner of Product Innovation Competition Semarang City. This graduate of Communications Studies from Diponegoro University hopes to become an entrepreneur in such see can introduce local products to the national and international market. At the same time, she is willing to many local resources through her business. Apart from her business activities, Ayy has been active in international organizations with various important roles such as the Vice President of Outgoing Exchange AIESEC in UNDIP which also brought her to work on social project in education and culture in Russia for two months. Her interest in volunteering grew when she participated AFS to Japan back in 2010. As returnee she’s still active in Bina Antarbudaya (Indonesian Foudation for Intercultural Learning) chapter Semarang.

PENGUMUMAN HASIL SELEKSI FINAL PROGRAM PERTUKARAN PEMUDA ANTAR NEGARA 2018

Halo, Pemuda Pemudi Jawa Tengah!

Setelah melalui karantina di Semarang pada 21-22 April 2018, berikut ini adalah urutan peringkat peserta untuk masing-masing program.

 

AUSTRALIA – INDONESIA YOUTH EXCHANGE PROGRAM (AIYEP)

  1. Tifani Diahnisa Hardianti – Kabupaten Kudus
  2. Aulia Nataningsih – Kabupaten Kebumen
  3. Immaculata Titis Winiati – Kabupaten Klaten

THE SHIP FOR SOUTHEAST ASIAN AND JAPANESE YOUTH PROGRAM (SSEAYP)

  1. Dio Dirgantara – Kota Semarang
  2. Ilham Dwi Hatmawan – Kabupaten Purbalingga
  3. Muhammad Ridlwan – Kabupaten Jepara

ASEAN-INDIA STUDENT EXCHANGE PROGRAM (AISEP)

  1. Faris Nur Khulafa – Kabupaten Jepara

Kami ucapkan selamat kepada para peserta yang telah terpilih!

Dari  peserta tersebut, masing-masing peringkat 1 dinobatkan sebagai delegasi Provinsi Jawa Tengah untuk program PPAN 2018. Kepada kandidat peringkat satu, informasi mengenai persyaratan administrasi PPAN 2018 beserta informasi-informasi penting lainnya akan kami kirimkan melalui email.

Kepada seluruh peserta yang telah berpartisipasi dalam seleksi PPAN 2018 Provinsi Jawa Tengah, kami mengucapkan terima kasih dan menyampaikan penghargaan yang setinggi-tingginya atas kerja keras dan penampilan luar biasa yang telah ditunjukkan selama proses seleksi berlangsung.

Semoga semua proses yang telah kita laksanakan dapat menjadi pembelajaran dan menjadi bekal dalam menjalani tantangan di masa yang akan datang. Semoga sukses dan tetap semangat! Sampai jumpa pada seleksi PPAN 2019! Matur nuwun!

PENGUMUMAN SELEKSI FINAL PERTUKARAN PEMUDA ANTAR NEGARA (PPAN) 2017 – PROVINSI JAWA TENGAH

Halo, Pemuda Pemudi Jawa Tengah!

Setelah melalui serangkaian seleksi di Semarang, 13 April 2017, berikut ini adalah urutan peringkat peserta untuk masing-masing program.

INDONESIA – MALAYSIA YOUTH EXCHANGE PROGRAM (IMYEP)

  1. Annisa Riska Anugraheni (Kabupaten Magelang)
  2. Ratna Widya Iswara (Kabupaten Rembang)
  3. Windhy Monica (Kota Surakarta)

INDONESIA – KOREA YOUTH EXCHANGE PROGRAM (IKYEP)

  1. Canadia Tessa Pradani (Kabupaten Magelang)
  2. Nur Umi Anizah (Kabupaten Purbalingga)
  3. Adelia Erlita Putri (Kota Semarang)

ASEAN STUDENTS VISIT INDIA (ASVI)

  1. Anggita Ilmariandy (Kabupaten Pati)
  2. Arno Johan (Kabupaten Pekalongan)
  3. Naufal Fakhri Anantri (Kota Pekalongan)

SHIP FOR SOUTHEAST ASIAN AND JAPANESE YOUTH PROGRAM (SSEAYP)

  1. Restu Ayu Mumpuni – Kota Semarang
  2. Aditya Very Cleverina – Kota Kudus
  3. Tifani Diahnisa Hardianti – Kota Kudus

Kami ucapkan selamat kepada para peserta yang telah terpilih!

Dari 12 peserta tersebut, masing-masing peringkat 1 dinobatkan sebagai delegasi Provinsi Jawa Tengah untuk program PPAN 2017. Kepada kandidat peringkat satu, informasi mengenai persyaratan administrasi PPAN 2017 beserta informasi-informasi penting lainnya akan kami kirimkan melalui email.

Kepada seluruh peserta yang telah berpartisipasi dalam seleksi PPAN 2017 Provinsi Jawa Tengah, kami mengucapkan terima kasih dan menyampaikan penghargaan yang setinggi-tingginya atas kerja keras dan penampilan luar biasa yang telah ditunjukkan selama proses seleksi berlangsung.

Bagi kami, Anda semua adalah pemenang. Semoga semua proses yang telah kita laksanakan dapat menjadi pembelajaran dan menjadi bekal dalam menjalani tantangan di masa yang akan datang. Semoga sukses dan tetap semangat! Matur nuwun!

AUSTRALIA-INDONESIA YOUTH EXCHANGE PROGRAM (AIYEP) 2016

Australia Indonesia Youth Exchange Program (AIYEP) sudah berjalan lebih dari 30 tahun (sejak 1981). Inti dari program ini adalah people-to-people contact yang bertujuan untuk meningkatkan cultural understanding bagi kedua negara, Indonesia dan Australia. Peserta AIYEP terdiri dari pemuda Indonesia (perwakilan dari berbagai provinsi di Indonesia) dan pemuda Australia. Program dijalankan selama 2 tahap, yaitu tahapan di Australia dengan fase kota dan fase country side masing-masing 1 bulan serta tahap 2 di Indonesia dengan fase kota dan fase desa (community development) masing-masing 1 bulan (tentatif setiap tahunnya). Setiap tahunnya kegiatan AIYEP diselenggarakan di daerah yang berbeda.

14632943_657737627719557_8430577531918982027_n


Pemuda merupakan unjuk tombak dalam membangun sebuah negara yang berdaulat. Maju mundurnya suatu negara tergantung dari kualitas pemudanya. Jika baik maka cerahlah masa depan suatu negara. Namun jika jelek bisa dipastikan mundurlah suatu negara. Seperti yang dikemukakan oleh pepatah Arab “Syubbanul yaum rijaalul ghod” yang artinya adalah pemuda hari ini adalah pemimpin masa depan.

Berangkat dari pentingnya peran pemuda inilah Pemerintah Republik Indonesia gencar mengirim pemuda pemudi terbaiknya ke luar negeri melalui berbagai program, salah satunya Program Pertukaran Pemuda Antar Negara (PPAN) yang diselenggarakan oleh Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora). PPAN merupakan program yang sangat strategis dalam membangun masa depan Indonesia yang lebih cemerlang. Disamping sebagai media untuk membentuk pemuda Indonesia yang berwawasan global, program ini juga merupakan jembatan diplomasi jangka panjang yang menghubungkan Indonesia dengan negara-negara mitra pertukaran. Adapun negara-negara mitra PPAN antara lain Cina, Korea Selatan, India-ASEAN, Malaysia, Jepang-ASEAN , dan Australia.

Australia dan Indonesia tidak bisa mengelak takdir geografis yang menempatkan kedua negara ini bersebelahan. Untuk memperdalam rasa saling pengertian ke dua negara dalam konteks hubungan orang ke orang, pemerintah Indonesia dan pemerintah Australia berinisiatif untuk membuat suatu program yang bisa mengakomodir misi tersebut. Maka pada tahun 1981 lahirlah sebuah program pertukaran pemuda yang diberi nama AIYEP (Australia-Indonesia Youth Exchange Program) atau dalam Bahasa Indonesianya PPIA (Pertukaran Pemuda Indonesia Australia).

PPIA memiliki dua fase yaitu fase Australia dan fase Indonesia. Untuk fase Australia, PPIA diselenggarakan dan didanai oleh Department of Foreign Affairs and Trade melalui Australia-Indonesia Institute. Sedangkan untuk fase Indonesia program ini dikelola oleh Kementerian Pemuda dan Olahraga.

PPIA tahun 2016-2017 bertempat di Adelaide untuk fase kota dan Fleurieu Peninsula untuk fase desa. Sedangkan program di Indonesia berlokasi di Sulawesi Selatan yaitu masing- masing di Tanah Beru, Kecamatan Bonto Bahari, Kabupaten Bulukumba untuk fase desa dan Kota Makassar untuk fase kota.

Semasa dua bulan di Australia, delapan belas pemuda Indonesia usia 21-25 tahun tinggal dengan keluarga angkat yang telah ditentukan. Kegiatan di Australia adalah magang di beberapa tempat kerja, memperkenalkan kebudayaan Indonesia melalui kunjungan ke beberapa sekolah, dan melakukan kunjungan resmi ke beberapa instansi pemerintah. Sedangkan selama tinggal di Indonesia para peserta Indonesia bersama-sama dengan delapan belas peserta dari Australia melakukan kegiatan pemberdayaan masyarakat (community development) selama tiga minggu di Tanah Beru, Bulukumba. Setelah itu mereka magang kerja di beberapa kantor dan instansi pemerintah di Kota Makassar. Kegiatan untama dari PPIA ini adalah pertunjukan budaya, hidup dengan keluarga angkat, penempatan kerja, mid visit break, dan pemberdayaan masyarakat.

Fase Australia

Tahun ini tuan rumah AIYEP di fase Australia adalah negara bagian Australia Selatan, pada fase kota peserta tinggal di kota Adelaide dan pada fase desa kegiatan terpusat di kota kecil yang merupakan tujuan wisata terkenal di Australia Selatan, yakni Fleurieu Peninsula. Ditulis juga mengenai kegiatan disaat jeda antara fase kota dengan fase desa yakni Mid-Visit Break. Kemudian ditutup dengan orientasi bersama antara peserta Indonesia dengan Australia sebelum keberangkatan untuk melanjutkan program di Indonesia.

Fase Indonesia

Fase  Indonesia  dibuka  dengan  proses  re-entry  peserta  yang  bertambah jumlahnya menjadi total 36 orang termasuk kelompok peserta Australia. Sebelum memulai kegiatan dengan resmi diawali dengan orientasi meliputi pengenalan daerah tujuan dan penyusunan rencana program. Begitu pula, untuk jeda antara fase desa dengan fase kota juga diadakan mid-visit break.


Profil Singkat Oscar Y. Carascalao

Di usianya yang terbilang sangat muda, Oscar Y. Carascalao adalah Deputy Principal dari SMA Krista Mitra Semarang. Memiliki talenta di bidang seni dari kecil, Oscar mahir dengan berbagai alat musik dan memiliki jam panggung cukup panjang sebagai vokalis. Sebagai guru Bahasa Inggris, Oscar telah melakukan banyak penelitian dan beberapa di antaranya telah disajikan di kancah internasional. Di program AIYEP, Oscar didapuk sebagai Group Leader – pemimpin delegasi Indonesia selama program.

The Ship for Southeast Asian and Japanese Youth Program (SSEAYP) 2016

 

SSEAYP adalah singkatan dari The Ship for SouthEast Asian Youth Program alias Program Kapal Pemuda Asia Tenggara – Jepang. Program ini awalnya merupakan kerja sama dari pemerintah Jepang utk “merebut” kembali hati negara-negara Asia Tenggara setelah protes anti modal asing pada tahun 1974. Setelah 43  tahun program ini berlangsung, program ini terus membangun persahabatan dan keluarga yang sungguh akrab. Tujuan utama program ini adalah untuk membangun persahabatan dan saling pengertian, semakin matang program ini semakin ditujukan lagi supaya peserta berkontribusi dalam aktivitas sosial setelah kembali di negara masing-masing. Peserta SSEAYP adalah 330 pemuda dari 11 negara Jepang dan Asia Tenggara. Delegasi dari Indonesia sendiri adalah 28 pemuda dari berbagai provinsi di Indonesia. Program ini akan berawal di Jepang, seluruh peserta akan berkumpul di Jepang dan mengikuti Youth Leader Summit, lalu peserta akan disebar ke beberapa prefektur di Jepang. Kemudian peserta akan masuk ke kapal Nippon Maru dan memulai pelayaran ke 5 negara.

FB_IMG_1490281491026

Fase Persiapan

Kapal Pemuda Asia Tenggara dan Jepang atau Ship for Southeast Asian and Japanese Youth Program (SSEAYP) merupakan program tahunan yang disponsori oleh pemerintah Jepang dan didukung oleh negara-negara Asia Tenggara. Saya mengetahui program SSEAYP atau dapat disebut juga dengan kapal pemuda Asia Tenggara dan Jepang dari roadshow yang dilaksanakan oleh PCMI Jawa Tengah di Universitas Diponegoro. Setelah terpilih sebagai peserta, saya beserta delegasi lain memperoleh informasi lengkap tentang hal yang perlu dipersiapkan dari alumni dan SII (SSEAYP International Indonesia) dan juga grup peserta. Selain itu juga ada pihak dari Kementrian Pemuda dan Olahraga Indonesia yang selalu memberikan informasi tentang persiapan program. Saya juga mendapatkan arahan dari Dinas Pemuda dan Olahraga Provinsi Jawa Tengah dan juga alumni yang berasal dari Jawa Tengah.

Sebelum berangkat, seluruh peserta PPAN yang terpilih dari Jawa Tengah melaksanakan Pre Departure on-line yang dibimbing oleh PCMI Jawa Tengah, dan juga intensif Pre Departure Derah yang dilaksanakan tanggal 19-21 Mei 2016 di Dinas Pemuda dan Olahraga Provinsi Jawa Tengah. Dinas Pemuda dan Olahraga Provinsi Jawa Tengah selalu berkoordinasi dengan PCMI Jawa Tengah dalam melakukan persiapan pemberangkatan kepada peserta PPAN. Dinpora Jateng juga memberikan dukungan dengan memberikan uang pengganti pembuatan passport dan juga membantu mengurus segala keperluan administrasi.

Materi selama PDT atara lain untuk pembentukan tim yang solid, penguasaan keterampilan, dan materi program serta pembentukan kepribadian Indonesia. Selama PDT kami sudah mendapatkan apa yang menjadi tujuan dari PDT. Dari sekian banyak materi PDT, materi yang perlu paling berkesan yaitu tentang kedisiplinan, art, dan refleksi untuk menambah kekompakan tim.

Fase Program

Setelah selesai Pre Departure Training,pada tanggal 24 Oktober 2016, Kontingen Indonesia yang  disebut sebagai Garuda 43, dikukuhkan oleh Kemenpora. Keesokan harinya Garuda 43 berangkat menuju Haneda Airport Tokyo . Setelah Sampai di Tokyo , kontingen Garuda 43 melanjutkan courtesey call pertama ke Cabinet Office Of Japan dan orientasi . selanjutnya , Seluruh Participating Youth meninggalkan Cabinet Office of Japan dan menuju National Youth Conference untuk melaksanakan Youth Leaders Summit.

FB_IMG_1487688454372FB_IMG_1490281561180

A. Japan-ASEAN Youth Leaders Summit (YLS) 2016

Japan-ASEAN Youth Leader Summit (YLS) merupakan bagian dari The Ship for Southeast Asian and Japanese Youth Program (SSEAYP) ke 43 dan dilaksanakan selama Country Program di Jepang. YLS dilaksanakan pada tanggal 30 Oktober 2016 sampai 2 November 2016 di National Youth Center. Adapun kegiatan YLS meliputi diskusi dengan 100 local youth dan 330 participant youth dengan tema besar “Youth Participation in Social Activities”. Selain kegiatan diskusi, terdapat kegiatan pementasan seni dari tiap negara yang berpartisipasi, dan juga pameran (exhibition) dari negara Asean-Jepang. Tujuan dilaksanakannya YLS untuk mengenalkan serta membangun partisipasi dan relasi antar Negara ASEAN dan Jepang.

Kontingen Indonesia berhasil menampilkan kesenian tari kontemporer berjudul “The Fire Mystical Dress”. Tarian kontemporer ini merupakan tarian yang menggambarkan sebuah khayangan, terletak di Bojonegoro, JawaTimur. Tempat ini merupakan tempat api abadi (khayangan api).

B. Onboard Activities

Kegiatan yang dilaksanakan di atas kapal selama saya mengikuti program bertujuan untuk menanamkan nilai-nilai self-management dan kepemimpinan. On board activities terdiri atas kegiatan :

B.1. Discussion Group

Pelaksanaan Discussion Group secara umum berlangsung dengan sangat baik. Semua kegiatan yang  sudah direncanakan oleh panitia dapat berjalan sesuai rencana. Secara umum kegiatan diskusi dilakukan di ruang-ruang yang telah disediakan sebelumnya. Disini PY dibagi kembali menjadi beberapa group kecil sesuai dengan DG masing-masing. Kegiatan diskusi dilakukan kurang lebih selama 2 jam per pertemuan. Pada kegiatan ini, PY difasilitasi oleh local youth. Local youth berkolaborasi dengan facilitator dan menjalankan diskusi dengan sangat baik. Pada akhir pertemuan, semua group diwajibkan untuk mempresentasikan hasil diskusi tersebut di depan PY lain.

Prestasi Delegasi Jawa Tengah dalam kegiatan ini

Pada kegiatan ini, hampir semua IPY aktif berbicara dan memberikan kontribusi di dalam diskusi. Beberapa IPY juga ditunjuk untuk menjadi wakil dari kelompok masing-masing dalam mempresentasikan tugas mereka. Hal ini juga berdampak pada prestasi IPY pada kegiatan lanjutan dari YLS yaitu kegiatan diskusi di kapal dimana dari 8 Discussion group yang ada, 5 orang IPY menjadi DG Steering Commitee. Salah satunya adalah saya . Saya menjadi SG Steering Committee mewakili Kontingen Indonesia (Country Representative) . Saya bertugas untuk membantu kontingen Indonesia dalam hal diskusi yang merupakan kegiatan yang sangat penting di kapal . 60 % kegiatan di atas kapal adalah kegiatan diskusi. Selain itu , saya juga harus dapat menyampaikan kepentingan Indonesia dan memperjuangkan kepentingan indonesia di dalam DG Subcomm tersebut . di akhir diskusi, Garuda 43 berhasil menentapkan short dan long term project yang akan dilakukan di daerah masing-masing.

B.2. Solidarity Group

Solidarity Group (SG)adalah salah satu kegiatan yang diperuntukkan untuk meningkatkan solidaritas diantara Participating Youth dari 11 negaa Asia Tenggara dan Jepang. Bentuk kegiatan SG adalah permainan-permainan interaktif yang membuat seluruh Participating Youth berpikir dan saling bekerjasama. Seluruh Participating Youth akan dibagi kedalam 11 kelompok Solidarity Group (SG A, B, C, D, E, F, G, H, I, J dan K). Pelaksanaan kegiatan Solidarity Group diakomodasi oleh Solidarity Group Sub- Committees (SG Subcom). SG Subcom terdiri dari satu orang Country Representative dan 2 orang perwakilan dari masing-masing SG Group. Anggota SG Subcom perwakilan Solidarity Group dipilih dengan cara voting disetiap Solidarity Group. Tahun 2016, pelaksanaan kegiatan Solidarity Group dilakukan sebanyak 3 kali.

IMG_20161116_10IMG_20161127_112407

B.3. Club Activities

Pada hari pertama kegiatan yang dilakukan adalah tutorial pembuatan kerajinan dari kain batik nusantara baik berupa kipas maupun bros dan bandana. Kipas terbuat dari rangka kipas berbahan bambu dan bahan kain batik yang ditempel pada sisi kipas. Warna atau motif dari kain batik ini dapat disesuaikan dengan keinginan peserta ( akan disediakan beberapa jenis motif). Selain itu PY’s juga diajak untuk belajar untuk menulis dengan aksara lontara dari Makasar.

Pada hari kedua kegiatan diisi dengan tutorial tari Zapin Muda Mudi. Tari zapin merupakan budaya tari melayu berasala dari riau. Tari ini di tarikan dahulunya di istana kerajaan dan penarinya yakni laki-laki, tapi sekarang sudah ditarikan oleh perempuan dan bahkan campuran. Tari ini di iringi musik petik yakni gambus dan 3 alat musik pukul yakni marwas.

B.4. Voluntary Activities

Voluntary Activities atau VA adalah aktifitas yang dilakukan dan diorganisir oleh PYs dengan tujuan menyatukan seluruh PYs dan memberikan hiburan bermakna di atas kapal dan bersifat sukarela.

IMG_20170105_2IMG_20161202_2

Country Program

C.1 Country Program Jepang

Aktivitas yang dilakukan selama Country Program Jepang

Country Program Jepang dimulai dengan kedatangan semua peserta pada tanggal 25 Oktober 2016. Kemudian dilanjutkan dengan orientasi yang dilakukan di Cabinet Office Jepang. Setelah kegiatan ini selesai, semua kontingen menginap di Hotel New Otani Jepang. Pada tanggal 26 kegiatan yang dilakuakan yaitu welcome reception  dan document clearance. Keesokan harinya semua PY melakukan check out  dan menjalankan local program dimana setiap PY dibagi berdasarkan kelompok SG.

Kunjungan kami bersama Solidarity group ialah ke perfektur perfektur di Jepang. Kegiatan pertama yang dilakukan adalah kunjungan ke kantor pemerintahan setempat dan menjalani sharing session mengenai kondisi kebudayaan dan sosial masyarakat di perfektur tersebut. Hari berikutnya kami menjalani kegiatan kunjungan ke sekolah dan tmpat bersejarah di perfektur masing-masin. Hari ketiga dan keempat melaksanakan kegiatan homestay dan berinteraksi dengan keluarga angkat. Sekembalinya dari country program di beberapa perfektur di Jepang, selanjutnya pelaksanaan Youth Leader Summit di NYC. Selanjutnya berdasarkan grup diskusi kita melaksanakan kunjungan ke sebuah tempat usaha yang cukup berkembang di Jepang dan melakukan sharing session mengenai strategi bisnis yang dijalaninya. Serta untuk DG yang lain seperti DG 5 mendapat kunjungan dari Place Tokyo.

C.2.  Country Program Vietnam

Aktivitas yang dilakukan selama country program

Aktivitas yang dilakukan selama country program antara lain:

  • Welcoming ceremony dan welcoming dinner dilaksanakan di sebuah hotel di H Chi Minh City. Di acara ini kami disambut oleh pejabat kementrian Pemuda Vietnam. Dalam acara ini dijelaskan pentingnya mengenai pentingnya kerjasasama Jepang ASEAN.
  • Institutional visit bersama Discussion Group. Untuk DG 5, kami melakukan institutional visit di sebuah lembaga kesehatan anak bernama Lin Xuan Child Care. Institusi ini adalah satu dari dua institusi yang berada di vietnam yang bertugas untuk merawat anak-anak terlantar maupun anak-anak yang menderita HIV. Sejak tahun 2008 pemerintah vietnam telah encar melakukan tindakan prefentik untuk menurunkan angka kejadan HIV ada anak. Sejak tahun 2008 angka penularan HIV dari Ibu ke anak sudah menurun drastis.
  • Homestay matcing dan homestay program

C.3. Country Program Thailand

Aktivitas yang dilakukan selama Country Program Thailand

Country Program di Bangkok, Thailand merupakan port of call ke tiga setelah Tokyo dan Ho Chi Min. Rangkaian kegiatan dilaksanakan dengan khidmat sebagai bentuk penghormatan dan rasa bela sugkawa peserta SSEAYP 2016 kepada Thailand yang baru saja kehilangan raja mereka. Semua peserta yang mengikuti rangkaian kegiatan di Tailand disarankan untuk menggunakan pakaian berwarna gelap. Selain itu, mereka memberikan pita berwarna hitam untuk dikenakan di saku pakaian setiap peserta. Ini merupakan budaya di Thailand jika ada bagian dari keluarga yang meninggal yang akan berlangsung selama 100 hari.

Welcome ceremony di Thailand di laksanakan dengan sangat rapi dan tertib. Kontingen Indonesia kemudian disambut oleh Duta Besar Indonesia untuk Thailand beserta wakilnya. Diawali dengan percakapan ringan, Duta Besar Indonesia sangat takjub dengan kedisiplinan dan kerapian kontingen Indonesia yang sangat terihat berbeda dari peserta lainnya. Beliau memberikan pujian serta pesan-pesan positif untuk Duta Muda Indonesia pada hari itu yang kemudian dimuat di beberapa surat kabar di Thailand dan di Indonesia.

Setelah welcoming ceremony, kegiatan dilanjutkan dengan courtesy call oleh H.E Prime Minister Thailand. Beliau memberikan apresiasi untuk seluruh peserta SSEAYP atas kesediaan menghormati masa berduka Thailand saat itu. Kegiatan welcoming ceremony kemudian dilanjutkan dengan welcome dinner yang dilakukan di tempat terpisah dengan welcome ceremony dan courtesy call. Sebelum Welcome dinner dimulai, beberapa excellency memberikan sambutan kepada peserta SSEAYP 2016. Dilanjutkan dengan makan malam bersama yang diiringi alunan merdu musik yang diciptakan oleh Almarhum Raja Thailand. Semua peserta SSEAYP sangat menikmati makanan yang dihidangkan.

Di hari berikutnya kegiatan dilanjutkan dengan institutional visit dan homestay matching. Peserta SSEAYP mendapatkan 5 tujuan tempat yang berbeda berdasarkan Solidarity Group. Pembagiannya adalah sebagai berikut: SG A, B: Chandrakasem Rajabhat University, SG C, D, E: University of Thai Chamber of Commerce, SG F, G: Suan Dusit University, SG H, I: Thammasart University, SG J, K:  Rangsit University. Selama kegiatan institutional visit, peserta SSEAYP diperkenalkan dengan beberapa budaya yang ada di Thailand seperti membuat Loy Krathong, membuat makanan khas Thailand, dan lain sebagainya. Kegiatan selanjutnya adalah Homestay matching yang dilanjutkan dengan homestay selama tiga hari. Selama kegiatan homestay Pys melakukan kegiatan bersama orang tua angkat berupa;

C.4 Country Program Kamboja

Aktivitas yang dilakukan selama country program

Kegiatan di Kamboja berlangsung selama 2 hari 1 malam. Di hari pertama, para Youth Leader ditemani oleh National Leader Kamboja dan Administator melakukan kunjungan ke National Museum dan Royal Palace di pagi dan siang hari. Lalu sore harinya dilanjutkan dengan courtesy call dengan Prime Minister of the Royal Government of Cambodia. Di malam harinya dilanjutkan dengan kegiatan Dinner Reception hosted by Minister of Education Youth and Sport. Keesokan harinya sebelum kembali ke Bangkok, Youth Leaders, National Leader of Cambodia dan Administrator mengunjungi EA Co., Ltd merupakan perusahaan yang bergerak di bidang organik. pengenalan dan pertukaran budaya.

C.5. Country Program Singapore

Aktivitas yang dilakukan selama country program

Port of call ketiga setelah Hochi Minh City, Vietnam dan Bangkok, Thailand adalah Singapore. Aktivitas yang dilakukan Participants Youth selama di Singapura telah terjadwal selamatigahari, yaitu dimulai dari hari Sabtu tanggal 26 November sampai pada hari Selasa tanggal 29 November 2016. Dalam masa empat hari tersebut, Participants Youth diikutsertakan dalam beberapa kegiatan utama yaitu Berth at CCO2, Singapore (pengenalan singkat tentang Singapore) di kapal, ASEAN-Japan Carnival dan Courtesy of Call on Minister of Youth, Homestay, Social Contribution Activities, dan Heritage Trail.

Berth at CCO2 dipimpin oleh dua alumni SSEAYP contigent Singapore yang memberikan pengenalan tentang tradisi, kuliner, tujuan wisata, dan budaya Singapore. Dilanjutkan dengan ASEAN-Japan carnival dan Courtesy of Call on Minister of Youth dimana para peserta diberi kesempatan untuk bertemu langsung beberapa duta besar dan mentri pemuda Singapore, juga mencicipi makanan khas dari berbagai Negara ASEAN dan menikmati beberapa daya tarik wisata Singapore. Homstay di Singapore berlansung pada hari Minggu tanggal 27 November sampai Senin 28 November, jam 10:55.

Social contribution activities dan Heritage Trail merupakan kegiatan paling akhir yang dilakukan berdasarkan Solidarity Group setiap peserta. Adapun komunitas yang dikunjungi diantaranya adalah Sports Care, Beyond Social Service, Food from the  Heart, Foodscape Collective,  4 PM, Ground Up Initiative, Lakeside Family Service, Beyond Social Service, Enabling Village, dan Dignity Kitchen.

IMG_20161220_1IMG_20170115_2IMG_20170323_2

Fase Re-Entry

Re-entry dilaksanakan di Jakarta dari tanggal 15 Desember – 19 Desember 2016 . Tujuan re-entry adalah untuk evaluasi pelaksanaan program , pembuatan dan pelaksanaan Post Program Activity (PPA) yang dilaksanakan secara jangka pendek dan jangka panjang. Kami melaksanakan PPA Short term ( jangka pendek ) pada hari Minggu tanggal 18 Desember 2016 di acara Cer Free Day daerah Stadion Gelora Bung Karno Jakarta. Acara tersebut sukses di hari oleh beberapa komunitas yang bergerak di bidang kemanusiaan dissabilitas. dan tujuan PPA short term kami adalah meningkatkan kesadaran masyarakat unuk mau belajar mengenai bahasa isyarat. Kami juga mengajarkan mereka bahasa isyarat indonesia (Bisindo) kepada masyarakat . selain itu , kami terdapat photobooth yang berisi tentang kampanye penggunaan bahasa isyarat.


Short Profile of Dini Puspita Hapsari

Dini Puspita Hapsari was chosen as Central Java representative in Indonesian Contingent for 43rd SSEAYP which took place in Japan, Vietnam, Cambodia, Thailand, Singapore, and Indonesia. She graduated from Diponegoro University, majoring public administration with cumlaude predicate. During her study, she has won several awards and competition, including Supersemar scholarship, selection of outstanding students (Mawapres), and became the ambassador of United Nations Survey. With her expertise in politics and government studies, she was awarded the opportunity to learn Civic Engagement in the University of Nebraska by the US State Department. She also managed a project named ASEAN Sustainable Education in rural area project in Cambodia, Thailand and Laos for three years. She is currently the Project Coordinator of #Youth4Dev Project, an initiative focuses on youth force and sustainable development goals (SDGs) with support from the US Embassy.